Menjaga asa industri musik di tengah pandemi

Konser "Drive-in" Kahitna di JIExpo

Memang untuk wabah ini masih sulit untuk mengarahkannya. Yang terbaik dari semuanya, audiensnya sangat terbatas dan protokol COVID-19 sangat ketat

Jakarta (ANTARA) – Saking cepatnya, pemerintahan Jokowi-Ma'ruf memasuki tahun pertama pada 20 Oktober 2020, dimulai dengan dilantiknya presiden dan wakil presiden terpilih pada 20 Oktober tahun lalu.

Pengembangan sumber daya manusia menjadi fokus utama Jokowi di masa jabatan kedua, seiring dengan pembangunan infrastruktur, reformasi birokrasi, dan transformasi di sektor ekonomi.

Dalam perjalanannya, berbagai tantangan terjadi selama satu tahun pemerintahan Jokowi – Ma'ruf Amin, salah satunya adalah pandemi COVID-19 yang melanda berbagai aspek kehidupan.

Tak terkecuali di sektor ekonomi kreatif, seperti industri musik Indonesia yang juga terkena wabah virus corona.

Baca juga: Konferensi Musik Indonesia Kedua membahas industri musik berkelanjutan

Baca juga: Ubud Rural Jazz Festival 2020 dibatalkan

Berbagai agenda pertunjukan musik terpaksa ditunda atau diubah menjadi pertunjukan online karena tidak mengundang banyak orang.

Berdasarkan data Koalisi Seni Rupa Indonesia, pada Maret 2020 saja, sekitar 40 konser, tur, dan rencana festival musik harus dibatalkan.

Para pemain di industri musik, dari musisi hingga yang terlibat di balik layar pertunjukan musik, tentu paling terpengaruh oleh wabah ini.

Tanpa mengesampingkan kepentingan pemerintah di sektor lain, upaya apa yang telah dan akan dilakukan oleh pemerintahan Jokowi terhadap industri musik Indonesia di tengah tantangan saat ini?

Baca juga: Ekosistem industri musik perlu dibangun di setiap kota

Kemakmuran

Selama tahun ini, Presiden Jokowi bekerja untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan musisi dan artis lain yang terkena dampak wabah COVID-19.

Pada Juli 2020 misalnya, Jokowi mengundang sejumlah selebritas termasuk artis dan musisi ke Istana Kepresidenan untuk membahas sejumlah hal.

Salah satu musisi yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah Kikan Namara yang juga dikenal sebagai mantan vokalis grup Cokelat.

Kikan mengatakan, dalam pertemuan tersebut perwakilan artis musik secara khusus meminta kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan kesejahteraan musisi, terutama yang berada di garis bawah, seperti musisi yang selalu tampil di kafe.

Musisi bernama asli Namara Surtikanti ini menjelaskan bahwa musisi underground seperti musisi kafe paling banyak dipengaruhi, termasuk musisi tradisional yang biasa tampil di pentas seni daerah.

Baca juga: Bali Revival 2020 Hidupkan Bisnis Konser Musik Indonesia

Kikan mengungkapkan, tidak ada kegiatan pentas musik karena tidak diberikannya izin mengadakan kegiatan yang mengundang masyarakat merupakan salah satu hal yang disuarakan oleh para pelaku industri musik.

"Selain itu, tentu saja orang-orang 'di belakang panggung' menyukainya anggota awak kapal, operator, penjual Sistem suara, penjual Petir dan seterusnya, "kata Kikan.

Kikan menuturkan, Presiden Jokowi akan menerima segala masukan dari rekan-rekan artisnya dan akan merumuskan program bersama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) untuk dapat memenuhi kebutuhan sesama musisi dan pelaku industri musik yang terkena wabah tersebut.

Dalam kesempatan itu, Presiden juga berharap para seniman dapat membantu pemerintah mengartikulasikan strategi berpikir pemerintah dalam rangka penyelamatan negara dari ancaman wabah.

Baca:  Hari Sumpah Pemuda di mata selebritas

Baca juga: Konser live streaming komposer Jerman dari Denpasar

Kreatif Dari Rumah

Pemerintah melalui Kemenparekraf berupaya memberikan dukungan dengan mengeluarkan program dan kebijakan yang berpihak pada pelaku industri musik.

Direktur Industri Musik, Seni Pertunjukan dan Publikasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Amin Abdullah mengatakan, pihaknya telah membuat program "Creative From Home" dan "Technical Guide" yang menjadi fokus utama selama masa pemulihan dan rehabilitasi darurat COVID-19.

"Creative From Home", jelas Amin, merupakan program stimulus bagi para pelaku kreatif, termasuk musisi. Ada empat kategori kegiatan, salah satunya adalah "Ngamen From Home" yang diadakan pada Mei 2020.

"Jadi merekaunggah video kemudian ada kurasi. Baru setelah itu diberikan uang tunai untuk pelatihan. Tapi tahun depan mereka ingin dihidupkan kembali karena menurut saya masih ada efek COVID-19, "kata Amin Abdullah kepada ANTARA, Rabu.

Baca juga: Musisi Kikan menggambarkan pertemuan artis dengan Presiden di Istana

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, menurut Amin, juga telah membuat program "Technical Guide" yang bisa digunakan para pelaku industri musik untuk mendapatkan wawasan tentang berbagai aspek mulai dari hak cipta hingga digitalisasi karya melalui pertemuan virtual.

Amin mengatakan, pihaknya mendengarkan masukan dari musisi yang tidak bisa tampil secara live akibat pembatasan aktivitas akibat wabah COVID-19.

Untuk itu, pemerintah telah mengeluarkan pedoman protokol kesehatan yang dapat digunakan oleh pelaku ekonomi kreatif, termasuk yang berkecimpung di industri musik.

“Memang masih sulit untuk mengarahkan pandemi ini. Paling-paling audiens sangat terbatas dan protokol COVID-19 ketat,” ujarnya.

Baca juga: Musisi harus kreatif dan beradaptasi dengan teknologi

hak cipta

Selain program darurat terkait pandemi COVID-19, Kementerian Pariwisata juga telah menyusun kebijakan dan program jangka panjang yang difokuskan pada peningkatan ekosistem industri musik Indonesia.

Salah satu isu penting yang juga menjadi pertanyaan para pelaku industri musik adalah masalah perlindungan hak cipta atas suatu karya. Ini akan diatur secara bertahap sampai musisi dan pencipta lagu mendapatkan haknya.

“Kami membuat peraturan menteri untuk perpanjangan izin usaha yang menggunakan jasa musik untuk mengumpulkan bukti bahwa mereka telah membayar berlatih dengan benar sebelum ekspansi bisnis, "katanya.

"Itu hanya menjadi perhatian kami saat itu berlatih dengan benar penulis lagu berbayar. Ini juga berpengaruh pada pendapatan negara, ”lanjut Amin.

Amin Abdullah mengakui perjalanan pemerintah dalam upaya mengembangkan industri musik Indonesia masih panjang. Namun, ia yakin hal tersebut bukan tidak mungkin dilakukan.

Memang pelaku ekonomi kreatif seperti musisi dan seniman merupakan salah satu aset negara yang juga harus diperhatikan kesejahteraannya.

Dengan berbagai upaya dari semua pihak, termasuk pemerintah, hal ini tentunya telah membantu industri musik Indonesia untuk tetap bertahan dan membuat aspirasi para pelaku tetap berkarya dan produktif meski saat ini sedang mewabah.

Baca juga: Musisi hingga atlet meminta orang untuk disiplin mematuhi protokol

Baca juga: Kemenparekraf dorong musisi memanfaatkan digitalisasi secara kreatif

Oleh Yogi Rachman
Editor: Suryanto
HAK CIPTA © ANTARA 2020