Perjalanan masa Rapsodia Nusantara – ANTARA News

Perjalanan masa Rapsodia Nusantara

Memang ini banyak dikonsumsi oleh penonton luar negeri. Oleh sebab itu, kita harus bisa berkomunikasi dengan mereka. Komunikasinya lewat musik, agar mereka dapat merasakan hubungan Indonesia dengan mereka

Jakarta (ANTARA) – Pianis Ananda Sukarlan boleh jadi telah malang melintang di panggung bergengsi dunia. Tapi, baru kali ini dia menggelar pementasan di situs peradaban kuno nusantara.

Perjalanan konser “Rapsodia Nusantara” dimulai dari Candi Hindu Prambanan (Yogyakarta), kemudian beranjak ke kompleks peninggalan Kerajaan Majapahit di Trowulan (Mojokerto) dan berakhir di kompleks peninggalan Kerajaan Sriwijaya Muaro Jambi (Jambi) yang juga merupakan kompleks percandian agama Hindu-Buddha terluas di Asia Tenggara.

“Ini sih memorable (mengesankan). Konser ini penting sekali buat perkembangan artistik saya, dari sini saya jadi riset juga tentang sejarah Indonesia,” jelas Ananda yang telah menghasilkan 33 nomor untuk solo piano dan empat karya orkestra dalam Rapsodia Nusantara, di Mojokerto, pada Sabtu (3/10).

Rapsodia Nusantara merupakan salah satu karya terkenal Ananda Sukarlan yang dikembangkan dari lagu-lagu tradisional Indonesia, dan ia telah mengerjakan Rapsodia Nusantara sejak 2006 dan hingga saat ini.

Pria yang menetap di Spanyol itu mengatakan perjalanan konser “Rapsodia Nusantara” kali ini telah memberikan pelajaran tentang kebudayaan dan sejarah Indonesia yang sebelumnya dia tidak ketahui.

Baca juga: Ananda Sukarlan: Indonesia butuh revolusi pendidikan seni

Bagi Ananda, candi itu bukan hanya untuk berdoa atau memuja Tuhan. Candi juga menjadi tempat berkumpul dan berkomunikasi masyarakat. Oleh sebab itu, dalam konser tersebut Ananda mengambil ideologi yang ada dalam peninggalan-peninggalan tersebut.

Misalnya, di Prambanan dia fokus tentang toleransi beragama yang telah terbangun sejak berabad-abad yang lalu.

“Yang paling jelas, Candi Sewu dan Candi Prambanan kan jaraknya sangat dekat, cuma beberapa ratus meter. Candi Sewu itu candi Buddha sedangkan Candi Prambanan itu candi Hindu, keduanya bisa terletak berdampingan, sehingga dari situ kita dapat melihat saat itu kita telah melakukan toleransi beragama dan perbedaan,” kata dia.

Saat menggelar konser di situs peninggalan Majapahit, pria yang merupakan satu-satunya orang Indonesia yang ditulis di dalam buku “The 2000 Outstanding Musicians of the 20th Century” itu fokus mengangkat kedigdayaan Nusantara, bahwa sejak dahulu kita sudah dapat menjalin relasi dengan negara-negara Asia terutama India dan China.

“Majapahit melahirkan istilah Nusantara, konsep yang dibuat Hayam Wuruk dan dieksekusi oleh Gajah Mada. Majapahit menjadi kerajaan pertama yang menyatukan Nusantara, bahkan pengaruhnya sampai ke Semenanjung Melayu, yaitu Malaysia dan Thailand,” kata dia.

Nusantara, saat itu, tak hanya besar lewat perdagangan dan kebudayaan, tetapi juga besar lewat pendidikan dan agama. Banyak para pemuka agama dari luar belajar ke Majapahit dan Sriwijaya.

Baca juga: Ibunda Jokowi meninggal, pianis Ananda Sukarlan persembahkan lagu

Di Trowulan, Ananda mengajak beberapa musisi muda berbakat yaitu pianis Gabriella Prisca dan Ayunia Saputro untuk memainkan beberapa nomor Rapsodia Nusantara, seperti No. 19 Manuk Dadali dan No.20 Padang Wulan. Ada juga soprano Mariska Setiawan dan bariton Rangga Suryananta.

Tak hanya lagu-lagu Rapsodia Nusantara yang disuguhkan oleh sang maestro, dia juga membuat musikalisasi puisi dari beberapa penyair ternama seperti penyair perempuan asal Surabaya, Sirikit Syah. Sebagai penghormatan kepada pujangga Sapardi Djoko Damono, Ananda juga membawa puisi “Dalam Doaku”, dan terakhir dia juga membawa puisi “Mariposa Blanca” dari penyair Peru yaitu Jose Luis Mejia.

Baca:  Terbuka dengan suami, kunci lancar "multitasking" Tasya Kamila

“Saya ingin menghubungkan situs Trowulan peninggalan Majapahit ini dengan Machu Picchu yang ada di Peru, karena kedua peradaban ini dibangun dalam periode waktu yang sama. Semoga dengan ini kita dapat menjalin hubungan dengan Peru, dan semoga mereka mau datang ke Indonesia,” kata Ananda yang mendapatkan “Penghargaan Kebudayaan 2015 kategori Pencipta, Pelopor dan Pembaharu” dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Usai menjelajahi peradaban kuno nusantara, Rapsodia Nusantara rencananya akan melanjutkan perjalanannya ke Ende, Flores yang menjadi tempat pengasingan Sukarno (1934-1939). Di sana Ananda akan bermain dalam tribute untuk Sukarno.

Baca juga: Ananda Sukarlan tunjukkan Indonesia lewat Rapsodia Nusantara

Apresiasi dari luar

Konser kali ini memang cukup berbeda dibandingkan konser-konser sebelumnya, tak hanya karena tempatnya perhelatan yang memiliki histori panjang sebagai fondasi terbentuknya masyarakat Indonesia, namun juga karena tak adanya kehadiran penonton secara fisik.

Meski sempat tertunda beberapa bulan karena pandemi, akhirnya konser “Rapsodia Nusantara” dapat dijalankan secara daring dan disiarkan di kanal YouTube Budaya Saya. Ananda menyebutnya konser ini “a blessing in disguise” (berkat yang terselubung).

Pertunjukan yang disiarkan secara daring itu mampu menarik penonton bukan hanya dari Indonesia tetapi juga dari luar negeri. Ananda yang memang memiliki penonton dari luar itu, merasa dapat mempromosikan kebudayaan Indonesia lewat konser tersebut.

Di dalam konser itu, Ananda tak hanya fokus bermain piano, dia juga menjelaskan kisah di balik bangunan tempat dia menggelar konser. Menurut dia, seni dan sejarah adalah sarana yang tepat untuk mengenal Indonesia. Dengan demikian penonton dapat belajar sejarah dengan cara yang menarik dan tidak membosankan.

Baca juga: Hari Pahlawan dalam konser diaspora Eropa dan Ananda Sukarlan

“Memang ini banyak dikonsumsi oleh penonton luar negeri. Oleh sebab itu, kita harus bisa berkomunikasi dengan mereka. Komunikasinya lewat musik, agar mereka dapat merasakan hubungan Indonesia dengan mereka,” kata Ananda.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Perfilman, Musik dan Media Baru Ahmad Mahendra mengatakan konser tersebut memang banyak ditonton oleh penikmat seni yang berada di luar Indonesia.

Konser ini, menurut Mahendra dapat memperkuat narasi tentang pemajuan kebudayaan dan dapat mempromosikan pariwisata serta kesejahteraan masyarakat.

“Ini kesempatan menata kembali dan melihat kejayaan nusantara dengan cara menarasikan dengan baik, salah satunya lewat konser musik klasiknya Ananda. Ananda dapat membawa narasi ini ke kancah internasional, terbukti saat konser di Prambanan penontonnya banyak dari luar seperti Spanyol, Peru, Amerika, dan lainnya,” kata dia.

Hal ini juga sesuai dengan keinginan Presiden Joko Widodo, untuk meningkatkan pariwisata maka harus menonjolkan narasi dari tempat wisata tersebut.

Baca juga: Ananda Sukarlan dan Joy Tobing berkolaborasi bantu penanganan COVID-19

Baca juga: Kompetisi Piano Ananda Sukarlan Award ditunda hingga Agustus

Baca juga: Ananda Sukarlan konser di UPH merawat perdamaian Papua

Oleh Aubrey Kandelila Fanani
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020